Selamat Datang!

Belantara Aksara merupakan gerakan yang digagas oleh sekelompok pemuda Desa Lowa lewat buku serta aktivitas-aktivitas kreatif lainnya demi memperluas wawasan sekaligus membantu kemajuan NKRI.


Belantara Aksara tidak hanya terfokus pada Taman Bacaan tetapi juga Taman Kreasi. Di sini, kami mengadakan berbagai kegiatan yang membuka wawasan luas (terutama wawasan nyentrik positif yang tidak diajarkan di sekolah formal).


Kalian bisa menghubungi kami lewat kontak berikut:

by

Pemuda Pelurus Versus Koruptor Penjerumus Dalam Unggahan Status



Internet telah mengubah cara kita berkomunikasi. Berkat media sosial, kini, segala sekat status sosial teringkas. Tersulap, dan segalanya saling lebur menjadi satu. Tiada terlihat mana yang kaya mana yang kurang. Media baru telah memberikan peluang interaksi many-to-many, yakni sejumlah orang bisa berkomunikasi dengan sejumlah orang lain secara bersamaan. Tanpa sekat, tanpa ada tembok yang menghalang. Dengan media sosial, maka seorang rakyat kecil yang ada di pelosok desa terpencil pun, bisa ‘bicara’ dengan siapa saja yang dia kehendaki, bahkan dengan Presiden Indonesia.

Nah, bagi anak muda, merugi sekali bila mereka hanya gunakan internet sekadar untuk jadi penyimak. Sehebat apa pun mereka, sehebat apa pun ide serta kritik yang ada di dalam otak, bila tidak bisa diekspresikan, maka selamanya ia akan cuma jadi penonton.

Pemuda yang tak memiliki kepercayaan diri lebih, tidak pandai dalam berbicara langsung di hadapan publik, maka ia bisa memilih opsi yang telah tersedia di internet: gunakan media sosial sebagai pengekspresi gagasan-gagasan hebat yang terpendam. Kalau melalui aksi langsung belum bisa, mengapa tidak lewat pena (media sosial)?

Dan memerangi korupsi lewat media sosial adalah salah satu upaya positif yang bisa dilakukan oleh pemuda. Sebab berperang dengan korupsi adalah tugas semua yang harus dilakukan oleh generasi pelurus macam kita. Tidak peduli siapa kita, atau partai apa yang kita dukung, setiap anak bangsa mesti ikut turun tangan mengangkat senjata melawan korupsi. Karena memberantas korupsi itu tidak cukup di arena hukum, tetapi juga dalam tataran opini publik secara luas. Dan pemuda dalam media sosial menjadi “pilot” bagi pemberantasan korupsi di negeri ini.

Memang, melangkah bersama-sama dalam media sosial terlihat sangat tidak berguna dan kecil, tetapi kenyataannya adalah sebaliknya, justru penting sekali.

Kalian tahu akan fenomena “Arab Spring”? Fenomena yang merebak lebih dari satu dekade lalu hanya karena satu mention di Twitter, ketika seorang pedagang kecil yang membakar dirinya demi keadilan menuntut pemerintah Tunisia?

Mereka, rakyat Arab, melakukan revolusi dengan memanfaatkan media sosial Twitter, Facebook, dan lain-lain. Sejak 18 Desember 2010, terjadi revolusi di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Aljazair, Bahrain, Irak, Jordania, Suriah, Maroko, dan Oman, yang dikenal dengan istilah “Arab Spring” atau Pemberontakan Arab. Media sosial semacam Twitter dan Facebook menjadi alat bagi gerakan rakyat untuk melakukan koordinasi dan komunikasi demi meningkatkan kesadaran masyarakat Arab.

Lalu sekarang apa hasilnya? Negara-negara Timur Tengah tersebut akhirnya kini bisa lebih bebas. Media sosial telah membawa demokrasi di Afrika Utara dan Timur Tengah serta membantu meningkatkan harapan bagi keberhasilan pemberontakan politik di sana.

Di Indonesia pun terjadi ‘demokratisasi’ lewat media sosial. Saat ramai kasus KPK vs. Polri pada Oktober tahun 2012 lalu, bukankah itu dikarenakan oleh kesaktian media sosial? Sebab semenjak saat itu, media sosial terasa makin berperan di Indonesia. Ketika terjadi porak-poranda perihal isu pelemahan KPK tersebut, jutaan pengguna Twitter berbondong-bondong, beramai-ramai menggalang aksi dukungan bagi keselamatan KPK. Banyak tokoh anti-korupsi akhirnya ikut saling bahu-membahu menggalang kekuatan. Sebutlah @hamid_usman yang menggalang kekuatan melalui situs change.org-nya, @illiandeta yang menjadi motor pengerah massa untuk melakukan aksi demo ke depan Gedung KPK dan Bundaran HI. Sementara itu, @AnitaWahid menginisiasi petisi “Serahkan Kasus Korupsi Polri ke KPK. Hentikan Pelemahan KPK”. Bagaikan rantai, petisi itu lantas digaungkan kawan-kawan anti-korupsi lain sehingga berhasil mencapai 15 ribu tanda tangan.

Lewat Twitter pula, kawan-kawan pegiat anti-korupsi tersebut menggalang pemakaian tanda pagar alias hashtag #SaveKPK, yang kemudian menyebabkan munculnya akselerasi kekuatan penyelematan KPK dalam waktu yang amat singkat dan menjadi topik hangat (trending topic).[1] 

Hasilnya, jutaan orang segera tahu bahwa ada sejumlah besar ‘kawan’ lain yang ternyata juga punya tekad sama untuk berdemo di Bundaran HI, membuat petisi, ataupun aksi anti-korupsi lainnya.

Tanpa disadari, tiap-tiap pengguna media sosial tersebut pun seolah menjadi seorang pencipta berita, pengguna berita, sekaligus pembaca berita sendiri. Lalu, ketika berita tadi dikicaukan secara bersamaan kemudian di-retweet oleh begitu banyak orang secara berulang-ulang, maka terjadilah percepatan yang maha luar biasa. Cukup sepersekian detik, orang langsung tahu soal rencana aksi #SaveKPK di Bundaran HI.

Tak hanya lewat tagar penggalangan penyelamatan KPK belaka, jangkauan media sosial juga jauh lebih variatif. Di media sosial, pemuda dapat menyebarkan ide kreatif mereka dengan berbagai cara. Salah tiga yang paling efektif mengumpulkan banyak perhatian serta komentar secara cepat adalah lewat meme, komik dagelan, dan sindiran berupa gambar editan Photoshop. Di Instagram sendiri, banyak berteberan akun-akun sarkasme yang mengunggah gambar-gambar lucu dengan tujuan menyindir pejabat negara, utamanya yang bermasalah. Misalnya akun @tahilalats, @jukihoki, dan @micecartoon.co.id.

Uniknya lagi, kreator-kreator komik ini biasanya selalu menyelipkan makna tersembunyi di balik unggahan mereka, membuat warganet harus berpikir keras dahulu dan merenungi akan maksud asli dari gambar-gambar itu.

Lalu, merebak pula meme-meme sindiran terhadap koruptor. Ambil saja contoh meme 'Kesaktian Setnov' yang beredar begitu masifnya di dunia virtual akhir tahun 2017 lalu.

Apalagi baru-baru ini, acara Mata Najwa menguak soal sel palsu Setya Novanto dan Nazarudin di lapas Sukamiskin. Luar biasa menjengkelkan, dan sudah barang tentu kita dibuat terheran-heran sendiri sebab keduanya ternyata memiliki kamar dengan luas dua kali lipat dari kamar tahanan napi pada umumnya. Mereka juga memiliki ruangan khusus untuk bekerja bahkan untuk mengadakan hiburan. Dan tak kalah mengejutkannya lagi, adik mantan Gubernur Banten Atut Chosiyah, Tubagus Chaeri Wardana diketahui juga merenovasi empat kamar tahanan sekaligus, hanya untuk dirinya sendiri.[2] 




Terbongkarnya kasus sel palsu ini mendaraskan bahwa hukum negara ini, sampai detik ini, masih menjadi budak tunggangan―asal ada pelicin, maka gampang semua urusan.

Sementara di sisi lain, publik amatlah gerah dan bosan melihat mekanisme penegakan hukum di negara ini yang tidak pernah benar-benar serius menangani koruptor. Alhasil, kemurkaan publik atas terbongkarnya kasus ini diwujudkan dalam berbagai ekspresi, salah satunya yaitu lewat media sosial. Karena seperti yang kita tahu, isu politik dan hukum seringkali menjadi tren yang paling banyak dibicarakan dalam media sosial, utamanya Twitter. Dan inilah yang jadi sebab-musababnya muncul meme ‘Kesaktian Setnov’.

Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, apa guna dari meme tersebut? Apakah sekadar ajang pengekspresian terhadap kemurkaan belaka? Atau justru hanya iseng ingin ikut-ikutan meramaikan topik yang memang sedang trending?

Jawabannya lebih dari pada itu. Media sosial telah menjadi ruang publik yang begitu tajam memberikan kontrol sosial, baik menyangkut ketidakadilan hukum, porak-poranda politik, sampai kasus-kasus nyeleneh. Melalui media sosial, publik memiliki ‘mata dan telinga’ yang tiada batas. Serupa kilat, informasi apapun dapat dengan cepat untuk diakses, terlebih lagi persoalan korupsi yang menyangkut pejabat tinggi.

Nah, fungsi dari meme di media sosial itu tak lain adalah sebagai ruang kontrol sekaligus hukuman sosial bagi Setya Novanto yang telah memangsa uang negara. Sindiran berupa gambar meme tersebut merupakan sebuah tekanan sosial dengan tujuan untuk memberikan efek ‘malu’.

Jika memang penegak hukum tidak mampu memberi efek jera pada tikus-tikus pengerat itu, maka biarkanlah publik yang mencibir dan mencemooh mereka. Tentu tidak semua manusia memiliki hati yang bisa merasakan apa itu ‘malu’, namun hal ini setidaknya dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi orang lain terutama anggota keluarga si pelaku untuk berpikir-pikir kembali bila ia ingin meniru tindakan korupsi tersebut.

Paling tidak, janganlah sampai pemuda Indonesia hanya menjadi penyimak di sosial media kemudian mengeluh dengan berkata, "Ah, biarlah dia dihukum di akhirat nanti. Itu urusan Tuhan.”


[1] Syafiq Basri Assegaff, “Kekuatan Media Sosial”, diakses dari https://nasional.sindonews.com/reasd/684161/18/kekuatan-media-sosial-1351649027, pada tanggal 20 September 2018 pukul 20.15. 
[2] Najwa Shihab, “Catatan Najwa – Fakta Baru Sel Palsu Lapas Sukamiskin”, diakses dari https://youtu.be/xocJ9QMUCa4, pada tanggal 21 September 2018 pukul 10.30.


0 comments:

Post a Comment