Selamat Datang!

Belantara Aksara merupakan gerakan yang digagas oleh sekelompok pemuda Desa Lowa lewat buku serta aktivitas-aktivitas kreatif lainnya demi memperluas wawasan sekaligus membantu kemajuan NKRI.


Belantara Aksara tidak hanya terfokus pada Taman Bacaan tetapi juga Taman Kreasi. Di sini, kami mengadakan berbagai kegiatan yang membuka wawasan luas (terutama wawasan nyentrik positif yang tidak diajarkan di sekolah formal).


Kalian bisa menghubungi kami lewat kontak berikut:

by

Karena Pendidikan Bukan Melulu Soal Bangku Formal


Kau tak hanya dibungkam
Tapi terikat kuat, dalam
Hukum rimba yang menghamba
Pada kebusukan penguasa

Apa lagi?

CUPLIKAN itu tertulis dalam sebuah majalah antologi puisi sederhana yang dicetak mandiri dan disebarkan secara gratis (bagi yang mau saja tentunya) oleh komunitas literasi Kecamatan Comal bernama Omah Umbu kira-kira bulan Desember atau Januari lalu. Saya tidak tahu kapan tepatnya mereka berdiri, tetapi membaca tulisan-tulisan di buku tersebut adalah sebuah kelegaan tersendiri. Ketika orang-orang ribut soal pawai kampanye sana-sini, tsunami hoaks dan berita palsu, kelesuan literasi yang makin bikin membisu, Omah Umbu muncul menjadi satu lubang kecil yang membawa sedikit angin sorga.

Majalah ini, seperti yang dikatakan oleh salah satu pendiri Omah Umbu (yang namanya dengan tega otak saya lupakan), memang bertujuan bagi kebebasan. Dari gaya bahasanya yang sedikit berbatas, misuh kaki empat, juga penggunaan kertas HVS yang biasa-biasa saja (karena kekurangan dana, saya tahu) menunjukkan bahwa mereka tak menyoal formalitas. Saya juga menyadari, dalam pertemuan diskusi literasi pada malam gerimis beberapa minggu lalu, betapa orang-orang yang memiliki pikiran waras seperti mereka justru terlihat macam gelandangan yang tak dianggap (secara harfiah maupun non-harfiah). Tidak necis tidak pula berambut klimis.

Fokus kami pada saat diskusi malam itu adalah perihal bagaimana cara menjaga keberlanjutan taman baca-taman baca yang telah berdiri di sekitaran Comal agar tetap kukuh. Secara bergiliran, satu per satu dari kami mulai berbicara. Semua netral tanpa menyinggung politik apalagi perbedaan keyakinan. Dan mereka yang telah lama ada dalam komunitas ini, cenderung berbicara terbuka, jujur, blak-blakan, dan apa adanya. Orang-orang ini menekankan bahwa literasi itu penting. Untuk menyadarkan cara pandang pemuda agar lebih bernurani terhadap apa-apa yang disajikan pada meja dunia, pada semua hal yang datangnya dari langit, pada kehidupan kita dengan alam, pada hubungan kita dengan sesama. Semua itu harus disikapi dengan berani dan benar.[1] Bahwa Taman Baca Desa juga patut dijaga demi membantu masa depan negeri ini dari tangan-tangan jahat berotak duit.

Dari awal, Omah Umbu yakin, bahwa dari bulan ke tahun pasti akan ada efek positif yang tercipta. Dari kawan ke kawan yang saling tukar inspirasi, buka topik debat singkat, adu jotos kata, ngulik history, dan kalem-kalem lainnya yang terjadi begitu saja. Maka, buku-buku mulai tertata rapih pada pojok tembok Mini Markas[2]. Kolom sastra dari sterofoam yang tertusuk kata-kata dari ruh manusia yang ngangkring di setiap malamnya. Puisi bergantian dengan suara truk yang terbirit-birit pada urat pantura yang dingin. Kemacetan tidak menghambat manunggalnya hati dan pikiran mereka. Akhirnya nyanyian indie lahir menggema, lukisan ideografis abstrak terpampang, dan taman baca-taman baca tumbuh pada margin desa.[3]

Benar. Selain beberapa komunitas lain, malam itu seingat saya, ada perwakilan dari tiga taman baca―Ruang Kita, Book Island, dan Belantara Aksara―yang hadir. Suasana yang awalnya agak canggung dan lesu tersebab merasa bahwa makin hari Taman Baca yang dikelola makin sepi peminat dan membosankan bagi pengunjung, perlahan sedikit sumringah. Diskusi yang diadakan Omah Umbu malam itu telah sedikit membantu dalam menyumbang ide solusi dan motivasi bagi kami. Taman baca-taman baca itu tidak hanya berisi buku, melainkan juga hal lain serupa bantuan dalam menyelesaikan kesulitan pelajaran yang pengunjung anak-anak temui di sekolah formal, beberapa kesenian, pengenalan kembali permainan tradisional, dan lainnya.

Omah Umbu telah menjadi percik bagi pemuda sekitaran Comal dalam membuka nurani. Menambah gairah pendidikan kesusasteraan yang hanya mengambang pada pelajaran sekolah formal, bahwa literasi itu penting, bahwa pendidikan itu tak perlu melulu soal sekolah formal, bahwa gerak satu mampu membuat yang lain luluh dan tersentuh.



[1] Abel, dkk. 2018. Antologi Puisi Edisi 1. Comal: Omah Umbu. Hal. 8.
[2] Tempat ngopi sekaligus diskusi yang menjadi cikal-bakal Omah Umbu.
[3] Ibid, hal. 7.

0 comments:

Post a Comment